Categories
Kesehatan

Awas Penyakit Sindrom kelelahan Kronis

Awas Penyakit Sindrom kelelahan Kronis

Sudah sewajarnya kita merasa lelah setelah seharian beraktivitas atau usai melakukan pekerjaan fisik yang berat. Untuk mengembalikan tenaga yang terkuras, biasanya istirahat sudah cukup. Namun, bagaimana jika kita sering merasa lelah bahkan dirasakan sampai sepanjang hari? Waspada, ini adalah tanda sindrom kelelahan kronis.

Sindrom kelelahan kronis (chronic fatigue syndrome) juga dikenal sebagai myalgic encephalomyelitis atau biasa disingkat dengan (ME/CFS). Menurut keterangan di laman American Myalgic Encephalomyelitis and Chronic Fatigue Syndrome Society, diperkirakan sebanyak 17-24 juta orang di dunia memiliki ME/CFS.

Salah satu figur publik yang diketahui memiliki kondisi ME/CFS adalah mantan pembalap MotoGP asal Australia, Casey Stoner. Lewat sebuah wawancara, Stoner bercerita dia mulai merasakan gejalanya sejak tahun 2018.

Lebih dari sekadar capek biasa dan hingga kini tidak ada obatnya, mari ketahui lebih lanjut apa itu ME/CFS.

1. Merasa lelah terus-menerus

Melansir Healthline dan MayoClinic, ME/CFS adalah kelelahan yang terjadi sepanjang waktu dan tidak hilang walaupun sudah tidur atau istirahat. Seseorang dicurigai mengalami kondisi ini bila kelelahan kronis setidaknya terjadi selama 6 bulan tanpa penyebab yang jelas.

Beda dari capek biasa, penderita ME/CFS akan terus merasa lelah dan tidak berenergi. Kondisi akan memburuk setelah penderitanya beraktivitas fisik maupun mental.

2. Memengaruhi kondisi fisik dan mental

ME/CFS dampaknya pada kualitas hidup penderitanya cukup signifikan. Rasa lelah yang berlebihan sering kali membuat orang dengan kondisi tersebut sulit melakukan aktivitas sehari, misalnya mandi, menyiapkan makanan, bersih-bersih, dan sebagainya.

Kelelahan yang ditimbulkannya cukup berat, terkadang sampai membuat penderitanya sulit beranjak dari tempat tidur. Kondisi ini juga tentu bisa menyulitkan pasiennya dalam bekerja, belajar, bahkan dalam kehidupan sosialnya.

Selain fisik, ME/CFS bisa memengaruhi kondisi mental. Penderitanya mungkin perlu melakukan perubahan gaya hidup untuk bisa beradaptasi dengan kelelahan kronis tersebut, dan tak jarang kondisinya memicu kecemasan hingga depresi. Lebih buruknya lagi, mereka bisa mengisolasi diri dan lebih memilih untuk beristirahat di rumah.

Oleh sebab itu, pendampingan oleh keluarga atau kerabat dekat sangat diperlukan untuk menjaga kondisi fisik maupun mental penderita.

3. Gejala-gejala yang perlu diwaspadai

Gejala ME/CFS yang ditimbulkan bervariasi, tergantung tingkat keparahan dan kondisi individu. Menurut keterangan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), selain rasa lelah yang dialami terus-terusan, gejala lain yang umum dialami penderita ME/CFS adalah:

  • Gangguan tidur, seperti merasa tidak segar saat bangun tidur, sulit tidur, dan gangguan tidur lainnya
  • Kesulitan dalam berkonsentrasi, fokus, dan mengingat sesuatu
  • Merasa pusing ketika berdiri atau duduk
  • Nyeri otot atau sendi
  • Sakit kepala

Gejala lainnya yang juga bisa dirasakan adalah pembengkakan kelenjar getah benting di leher atau ketiak, sakit tenggorokan, masalah pencernaan, menggigil dan berkeringat pada malam hari, sesak napas, dan detak jantung tidak teratur.

Dirangkum dari berbagai sumber, penyebab ME/CFS belum diketahui secara pasti. Namun, para ahli menduga bahwa beberapa faktor berikut dapat meningkatkan risiko kondisi tersebut:

  • Pengaruh genetik atau faktor keturunan
  • Infeksi virus atau bakteri
  • Sistem imun yang melemah
  • Ketidakstabilan hormon
  • Stres
  • Usia. Menurut CDC, kelelahan kronis umumnya terjadi pada usia 40-60 tahun. Namun, ME/CFS bisa dialami segala usia
  • Jenis kelamin. Kemungkinan perempuan untuk mengalami ME/CFS 2-4 adalah 2-4 kali lebih tinggi ketimbang laki-laki

5. Diagnosis sindrom kelelahan kronis

Diagnosis ME/CFS bisa menjadi tantangan bagi dokter yang memeriksa. Pasalnya, belum ada tes diagnostik pasti untuk kondisi tersebut. Selain itu, gejalanya pun mirip dengan banyak kondisi medis lainnya. Bahkan, banyak penderita ME/CFS yang tidak tampak seperti orang yang sakit.

Menurut sebuah ulasan ilmiah dalam jurnal Primary Care Companion to The Journal of Clinical Psychiatry tahun 2008, kelelahan bisa menjadi bagian dari gejala depresi, kecemasan, gangguan afektif musiman, dan beberapa kondisi lainnya. Fakta lapangan, ME/CFS sering dikira sebagai depresi.

Mengetahui riwayat lengkap pasien disertai pemeriksaan lewat kuesioner bisa sangat membantu dokter dalam membedakan ME/CFS dengan gangguan depresi mayor.

Dalam menentukan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh termasuk fisik, tes laboratorium, dan riwayat kesehatan pasien. Dokter juga akan memastikan bahwa pasien memiliki gejala dan faktor risiko ME/CFS. Selain itu, pasien akan ditanya mengenai durasi dan keparahan dari kelelahan yang dialami.

Beberapa penyakit yang punya gejala mirip ME/CFS antara lain:

Beberapa penyakit berikut memiliki gejala yang sama seperti sindrom kelelahan kronis.

  • Mononukleosis
  • Penyakit Lyme
  • Multiple sclerosis
  • Lupus
  • Hipotiroidisme (kekurangan hormon tiroid)
  • Fibromialgia
  • Gangguan depresi mayor
  • Obesitas
  • Gangguan tidur

Jika merasa lelah berkepanjangan, belum tentu kamu mengalami ME/CFS. Bisa saja merupakan gejala dari kondisi medis di atas. Maka dari itu, hindari diagnosis diri sendiri, periksakan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

6. Perawatan diberikan untuk meredakan gejala

Saat ini, belum ada metode pengobatan yang sepenuhnya efektif mengatasi ME/CFS. Namun, perawatan tetap dilakukan untuk meredakan gejala yang dialami.

Setiap pasien mungkin memiliki gejala yang berbeda-beda sehingga, sehingga penanganan tiap pasien pun tidak sama. Beberapa jenis perawatan yang bisa dilakukan di antaranya:

  • Obat-obatan: diberikan sesuai dengan kondisi pasien. Antidepresan diberikan untuk mengatasi depresi yang bisa menjadi pemicu ME/CFS dan membantu meningkatkan kualitas tidur. Selain itu, obat pereda nyeri, seperti ibuprofen atau aspirin, diresepkan untuk mengatasi nyeri sendi dan otot yang dirasakan penderita.
  • Psikoterapi: terapi perilaku kognitif (CBT) dapat membantu menenangkan pikiran dan mengatasi kecemasan, stres, atau depresi yang dapat muncul bersamaan dengan ME/CFS.
  • Perubahan gaya hidup: misalnya dengan mengurangi konsumsi kafein dan alkohol, berhenti merokok, tidur yang cukup, melakukan olahraga ringan sesuai rekomendasi dokter, menerapkan pola makan bergizi seimbang.

Perkembangan yang akan dirasakan dalam pengobatan tiap pasien bisa berbeda-beda pada tiap orang. Maka dari itu, penting bagi pasien untuk bekerja sama dengan dokter untuk membuat rencana perawatan sesuai kondisi dan kebutuhan.

Itulah hal-hal seputar sindrom kelelahan kronis. Terus-menerus merasa lelah memang tidak bisa dianggap sepele, apalagi jika muncul tanpa penyebab yang jelas. Segera periksakan ke dokter agar bisa diperiksa lebih lanjut dan segera mendapat penanganan yang tepat.

Dilansir oleh https://dealerpro.net/