Categories
Olahraga

Sejarah Berolahraga Downhill

downhill images photo pictures HD wallpaperSejarah Berolahraga Downhill, Bersepeda menuruni bukit, kita lebih mengenalnya dengan Down Hill (DH), sebuah cabang olah raga bersepeda khusus mountain biking time trial dengan memanfaatkan gaya gravitasi untuk membukukan waktu tercepat, dengan kontur trek berupa turunan-turuan terjal yang sesekali diselingi dengan drop-off cukup tinggi.

Penyelenggaraan Race Time Trial Down Hill secara resmi pertama kali diselenggarakan pada 22 Oktober 1976, mengambil lokasi race di Fireroad, Fairfax, California yang sekarang dikenal dengan nama Repack Road.

downhill images photo pictures wallpaper

Pada waktu itu, sepuluh pesepeda menuruni ketinggian Repack, dengan jarak 1300 feet dalam waktu 5 menit. Sepeda yang pertama kali digunakan dalam aktivitas Down Hill ini dikenal dengan sebutan “Klunkers” atau “Paperboy Bikes”.

Olahraga bersepeda ini terus berkembang, berkat kontribusi Ignatz Schwinn, yang kemudian pada tahun 1979, Charlie Kelly dan Gary Fisher mendirikan sebuah perusahaan dan menamakan aktivitas bersepeda menuruni bukit ini dengan MountainBikes. Dan olahraga bersepeda gunung ini pun berkembang pesat pada tahun 80an.

Hingga kemudian, para pesepeda pro dari berbagai disiplin cabang olahraga bersepeda mulai tertarik dan fokus pada Down Hill. Khususnya, banyak pembalap BMX, termasuk para juara seperti John Tomac (Tim Tomac Bikes) dan Brian Lopes. Pengaruh mereka nampak pada peningkatan tingkat kesulitan trek seperti hadirnya ‘jumping stage’ dan drop off pada Bersepeda Down Hill.

Seiring bertambahnya umur cabang bersepeda Down Hill ini, lahirlah kejuaraan Down Hill dunia, dengan label “UCI Mountain Bike Championship”, yang diselenggarakan untuk pertama kalinya pada tahun 1990 di Durango, Colorado.

Dilansir oleh http://notut.org/

Categories
Olahraga

Sumpah Pemuda Kemenpora Gelar Kegiatan Bersepedah

Sumpah Pemuda Kemenpora Gelar Kegiatan Bersepedah

Sumpah Pemuda Kemenpora Gelar Kegiatan Bersepedah, Staf Khusus Kemenpora bidang kreativitas dan inovasi kaum milenial Aliya Noorayu Laksono mengajak anak-anak muda untuk tetap berolahraga di tengah pandemi Covid-19.

Karena itu, dia bersama jajarannya bekerja sama dengan LPDUK menggelar kegiatan milenial bersepeda di penghujung bulan pemuda, sekaligus jadi rangkaian hari Sumpah Pemuda yang dirayakan setiap 28 Oktober.

“Pada penghujung bulan pemuda ini, kami gelar kegiatan ini, kami ajak komunitas sepeda dan organisasi kepemudaan,” ucapnya.

Ini Klarifikasi Kemenpora Kegiatan ini dipusatkan di Kemenpora pada Sabtu (31/10) dan tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat dalam pelaksanaannya.

Kegiatan ini dibuat tertutup untuk umum, namun mengundang komunitas-komunitas sepeda dan organisasi kepemudaan.

Setiap komunitas, lanjut dia, hanya mengirimkan beberapa anggotanya.

Alhasil, peserta milenial bersepeda yang ambil bagian tak lebih dari seratus orang. Demi memastikan peserta yang ambil bagian dalam kondisi sehat, panitia pun melakukan rapid test terlebih dulu.

Bagi yang reaktif, maka tak bisa mengikuti kegiatan ini. “Tadi hasilnya tak ada yang reaktif, kondisinya bagus semua. Mereka pun menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” ucapnya. Saat peserta datang, panitia sudah mewanti-wanti untuk memakai masker, mencuci tangan terlebih dulu, dan terus menjaga jarak.

Start kegiatan ini dimulai dari halaman Kemenpora dan melalui rute di jalanan ibu kota. Rombongan milenial bersepeda ini melewati rute jalan Gerbang Pemuda, Jl. Asia-Afrika, kemudian lanjut ke arah Jl. Sudirman. Dari situ, peserta melanjutkan kayuhan sepedanya ke arah monas, melewati bundaran HI dan kemudian rute memutar kembali ke Kemenpora.

Total rute yang dilalui mencapai 15 kilometer lebih dengan finish kembali di Kemenpora melewati jalur yang tak berbeda jauh dengan keberangkatan. “Kegiatan sepeda ini sebagai race awareness untuk mengajak pemuda dan masyarakat tetap aktif berolahraga di tengah pandmei, karena itu di setiap sepeda kami bawa poster kampanye untuk tetap jaga imun tubuh dengan berolahraga, salah satunya bersepeda ini,” tuturnya.

Dia berpesan, anak muda untuk terus bergerak, menjaga kesehatan dan kebugaran, jangan hanya rebahan di rumah. Tetap beraktivitas dan untuk anak muda harus tetap kreatif di tengah pandemi. Usai bersepeda, ada juga pembagian doorprize dimulai dari aksesoris sepeda, alat pendukung protokol kesehatan, sampai dengan hadiah utama sepeda lipat.

Ada tiga jenis sepeda lipat yang dijadikan hadiah utama. Komunitas sepeda dari Kahmi Muda Gowes mendapat door prize Pacific Flux 3.0, kemudian dari komunitas SLIC mendapatkan sepeda Dahon ION, dan sepeda Ecosmo edisi sumpah pemuda didapatkan oleh komunitas sepeda HIPMI.

“Kami senang dengan kegiatan ini, karena benar terasa manfaatnya. Di tengah pandemi harus tetap sehat dengan berolahraga, bersepeda ini salah satunya. Kalau mau olahraga yang lain juga tidak masalah, yang penting pesan dari Kemenpora untuk terus berolahraga digaungkan, terutama untuk anak muda,

Dilansir oleh http://kaypacha.ca/

 

Categories
Kesehatan

Analisis Data COVID-19 Indonesia

  1. Sumber data yang digunakan dalam analisis ini merupakan data yang berasal dari Kementerian Kesehatan.
  2. Satuan Tugas Penanganan COVID-19 menerima data konfirmasi kasus positif dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) dengan sistem New All Record yang kemudian diverifikasi oleh Public Health Emergency Operating Center (PHEOC) dan dikirimkan melalui Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan.
  3. Data individual dari Pusdatin Kementerian Kesehatan masuk ke sistem Bersatu Lawan COVID (BLC) di bawah Satuan Tugas Penanganan COVID-19 dan diterima setiap hari.
  4. Data individual pasien di rumah sakit (termasuk OTG, ODP, PDP, positif yang kini disebut kasus suspek dan terkonfirmasi) didapatkan melalui sistem RS Online yang dikelola oleh Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan dan dikirimkan oleh Pusdatin Kemenkes.
  5. Data COVID-19 bersifat sangat dinamis sehingga dapat berubah sesuai dengan hasil verifikasi yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan.
  6. Data yang masuk ke dalam sistem BLC akan dilakukan analisis harian dan mingguan yang dapat diakses pada website: https://covid19.go.id.

Laporan Analisis Data COVID-19 ini disusun oleh Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan COVID-19

Kita mesti bijak memilah dan memilih sumber rujukan informasi. Apalagi terkait dengan obat-obatan yang kita konsumsi. Jika kita lengah, akan fatal akibatnya bagi kesehatan.

Yuk kita selalu cek “KLIK”, Kemasan, Label, Ijin edar dan Kadaluarsa pada tiap kemasan obat ataupun suplemen kesehatan. Cari tahu selengkapnya di http://cekbpom.pom.go.id

Dilansir http://argentinarenovables.org/

Categories
Kesehatan

Penyakit Corona Disebut Sebagai Sindemi

Seluruh dunia sepakat bahwa hingga saat ini Covid-19 merupakan sebuah pandemi. Bahkan, WHO sendiri juga sudah menegaskan dalam beberapa pertanyaan badan kesehatan dunia tersebut karena sifat Covid-19 yang terjadi secara global alias mewabah di seluruh dunia. Hingga hari ini tercatat sudah 52,6 juta kasus virus di seluruh dunia, dengan 34,1 juta sembuh dan 1,29 juta meninggal. Untuk Indonesia sendiri sudah tercatat melebihi 450.000, yaitu 452.000l, dengan 382.000 sembuh dan 14.933 meninggal. Beberapa langkah juga sudah dilakukan seperti meminta masyarakat untuk melakukan 3M, yaitu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak sebanyak 1-2 meter kemudian melakukan tes-tes Corona seperti PCR swab dan rapid test. Tak hanya itu, beberapa negara pun juga sudah melakukan karantina wilayah atau lockdown dan menutup beberapa akses meskipun harus mengorbankan perekonomian yang juga terguncang akibat virus yang mewabah ini.

sindemiHasilnya, ada beberapa negara yang sukses, ada juga yang tidak. Jumlah penderita virus perlahan bisa dikurangi meskipun kemudian mengalami lonjakan kembali setelah ada pelonggaran. Harapan satu-satunya pun kini tertuju pada vaksin Covid-19 yang masih dalam pengembangan meskipun vaksin tidak serta-merta dengan cepat menghilangkan pandemi. Kini setelah Covid-19 sudah dinyatakan sebagai pandemi muncul lagi istilah untuk menyebut virus asal Wuhan tersebut sebagai sindemi. Tentu banyak Sobat Sehat yang bertanya-tanya apa itu sindemi?

Pengertian Sindemi

Sindemi adalah akronim yang berasal dari dua kata, yaitu sinergi dan pandemi. Artinya, penyakit seperti Covid-19 tidak boleh berdiri sendiri sebab pada kenyataannya di satu sisi ada Covid-19 yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, dan di sisi lainnya ada serangkaian penyakit yang sudah diidap seseorang. Kedua elemen ini berinteraksi dalam konteks ketimpangan sosial yang mendalam.Istilah ini sendiri dimunculkan oleh Richard Horton, pemimpin redaksi jurnal ilmiah The Lancet pada 26 September 2020. Melalui sindemi ini, Horton hendak menunjukkan satu tingkat keseriusan yang lebih parah dari pandemi. Dengan demikian, para pemangku kebijakan perlu mengambil langkah yang lebih serius untuk menjaga kesehatan masyarakat.

Komentar ini ia tulis tepat saat virus Covid-19 atau Corona merenggut 1 juta nyawa manusia di seluruh dunia. Horton juga menyatakan bahwa pendekatan yang diambil dalam penanganan virus memakai pendekatan yang terlalu sempit. Sebab, selama ini ia menilai semua intervensi hanya berfokus pada pemotongan laju penularan virus. Penanganan ini bahwa penanganan yang ada lebih berdasarkan pada pandangan bahwa Covid-19 sebagai penyakit menular. Sejarah ilmu pengetahuan epidemiologi selama berabad-abad menunjukkan bahwa memutus rantai penularan adalah cara yang tepat untuk mengatasi wabah penyakit menular.

Ketimpangan sosial yang pernyataan Horton soal sindemi terlihat dari pernyataan PBB pada awal tahun 2020. PBB telah memperingatkan bahwa pandemi memiliki dampak yang tidak proporsional di antara populasi termiskin di dunia. Hal itu ditegaskan oleh Sekjen PBB, Antonio Guterres. Yang paling terdampak adaklah kelompok masyarakat paling rentan, orang yang hidup dalam kemiskinan, pekerja miskin, perempuan dan anak-anak, penyandang disabilitas, dan kelompok marginal lainnya.

Bukan Istilah Baru

Sindemi bukanlah istilah baru dan sudah muncul pada dekade 90-an oleh seorang antropolog medis asal Amerika Serikat, Merill Singer. Istilah ini dicetuskannya untuk menyebiut kondisi ketika dua penyakit atau lebih berinteraksi sedemikian rupa sehingga menyebablan kerusakan yang lebih besar ketimbang dampak dari masing-masing penyakit tersebut. Dampak dari interaksi ini juga difasilitasi oleh kondisi sosial dan lingkungan yang tidak bisa dijelaskan dapat menyatukan kedua penyakit atau membuat populasi menjadi lebih rentan terhadap dampaknya. Istilah ini muncul saat Singer dan koleganya sedang meneliti penggunaan narkoba di komunitas berpenghasilan rendah di AS. Ia dan koleganya menemukan bahwa banyak masyarakat yang menggunakan narkoba menderita sejumlah penyakit seperti TBC dan penyakit menular seksual. Kesimpulan dari penelitian bahwa dalam beberapa kasus kombinasi penyakit memperkuat dampak dan kerusakan yang dialami penderita.

Cara Penanganan

Mengenai sindemi ini beberapa ahli seperti Tiff-Annie Kenny dari Laval University di Kanada menyarankan hal yang sama seperti Norton, yaitu mengganti pendekatan epidemiologi klasik mengenai risiko penularan Covid-19 dengan pendekatan dalam konteks sosial. Hal lainnya, menurut Merill Singer adalah mengatasi faktor struktural yang mempersulit masyarakat miskin untuk mengakses layanan kesehatan atau mengonsumsi makanan yang memadai. Perubahan strategi ini diperlukan untuk menghadapi pandemi di masa depan sebagai akibat tindakan manusia yang selalu melampaui batas yang menyebabkan beberapa hal negatif seperti perubahan iklim dan deforestasi. Hal ini perlu supaya pengobatan atau pencegahan terhadap Covid-19 benar-benar berjalan efektif.

Baca Juga: http://modemontreal.tv/

Nah, itulah Sobat Sehat mengenai sindemi, istilah yang baru-baru ini diluncurkan untuk menyebut Covid-19 yang masih mewabah. Yuk, Sobat, tetap jaga diri dari Covid-19 dengan menerapkan 3M, menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat

Categories
Kesehatan

Awas Penyakit Sindrom kelelahan Kronis

Awas Penyakit Sindrom kelelahan Kronis

Sudah sewajarnya kita merasa lelah setelah seharian beraktivitas atau usai melakukan pekerjaan fisik yang berat. Untuk mengembalikan tenaga yang terkuras, biasanya istirahat sudah cukup. Namun, bagaimana jika kita sering merasa lelah bahkan dirasakan sampai sepanjang hari? Waspada, ini adalah tanda sindrom kelelahan kronis.

Sindrom kelelahan kronis (chronic fatigue syndrome) juga dikenal sebagai myalgic encephalomyelitis atau biasa disingkat dengan (ME/CFS). Menurut keterangan di laman American Myalgic Encephalomyelitis and Chronic Fatigue Syndrome Society, diperkirakan sebanyak 17-24 juta orang di dunia memiliki ME/CFS.

Salah satu figur publik yang diketahui memiliki kondisi ME/CFS adalah mantan pembalap MotoGP asal Australia, Casey Stoner. Lewat sebuah wawancara, Stoner bercerita dia mulai merasakan gejalanya sejak tahun 2018.

Lebih dari sekadar capek biasa dan hingga kini tidak ada obatnya, mari ketahui lebih lanjut apa itu ME/CFS.

1. Merasa lelah terus-menerus

Melansir Healthline dan MayoClinic, ME/CFS adalah kelelahan yang terjadi sepanjang waktu dan tidak hilang walaupun sudah tidur atau istirahat. Seseorang dicurigai mengalami kondisi ini bila kelelahan kronis setidaknya terjadi selama 6 bulan tanpa penyebab yang jelas.

Beda dari capek biasa, penderita ME/CFS akan terus merasa lelah dan tidak berenergi. Kondisi akan memburuk setelah penderitanya beraktivitas fisik maupun mental.

2. Memengaruhi kondisi fisik dan mental

ME/CFS dampaknya pada kualitas hidup penderitanya cukup signifikan. Rasa lelah yang berlebihan sering kali membuat orang dengan kondisi tersebut sulit melakukan aktivitas sehari, misalnya mandi, menyiapkan makanan, bersih-bersih, dan sebagainya.

Kelelahan yang ditimbulkannya cukup berat, terkadang sampai membuat penderitanya sulit beranjak dari tempat tidur. Kondisi ini juga tentu bisa menyulitkan pasiennya dalam bekerja, belajar, bahkan dalam kehidupan sosialnya.

Selain fisik, ME/CFS bisa memengaruhi kondisi mental. Penderitanya mungkin perlu melakukan perubahan gaya hidup untuk bisa beradaptasi dengan kelelahan kronis tersebut, dan tak jarang kondisinya memicu kecemasan hingga depresi. Lebih buruknya lagi, mereka bisa mengisolasi diri dan lebih memilih untuk beristirahat di rumah.

Oleh sebab itu, pendampingan oleh keluarga atau kerabat dekat sangat diperlukan untuk menjaga kondisi fisik maupun mental penderita.

3. Gejala-gejala yang perlu diwaspadai

Gejala ME/CFS yang ditimbulkan bervariasi, tergantung tingkat keparahan dan kondisi individu. Menurut keterangan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), selain rasa lelah yang dialami terus-terusan, gejala lain yang umum dialami penderita ME/CFS adalah:

  • Gangguan tidur, seperti merasa tidak segar saat bangun tidur, sulit tidur, dan gangguan tidur lainnya
  • Kesulitan dalam berkonsentrasi, fokus, dan mengingat sesuatu
  • Merasa pusing ketika berdiri atau duduk
  • Nyeri otot atau sendi
  • Sakit kepala

Gejala lainnya yang juga bisa dirasakan adalah pembengkakan kelenjar getah benting di leher atau ketiak, sakit tenggorokan, masalah pencernaan, menggigil dan berkeringat pada malam hari, sesak napas, dan detak jantung tidak teratur.

Dirangkum dari berbagai sumber, penyebab ME/CFS belum diketahui secara pasti. Namun, para ahli menduga bahwa beberapa faktor berikut dapat meningkatkan risiko kondisi tersebut:

  • Pengaruh genetik atau faktor keturunan
  • Infeksi virus atau bakteri
  • Sistem imun yang melemah
  • Ketidakstabilan hormon
  • Stres
  • Usia. Menurut CDC, kelelahan kronis umumnya terjadi pada usia 40-60 tahun. Namun, ME/CFS bisa dialami segala usia
  • Jenis kelamin. Kemungkinan perempuan untuk mengalami ME/CFS 2-4 adalah 2-4 kali lebih tinggi ketimbang laki-laki

5. Diagnosis sindrom kelelahan kronis

Diagnosis ME/CFS bisa menjadi tantangan bagi dokter yang memeriksa. Pasalnya, belum ada tes diagnostik pasti untuk kondisi tersebut. Selain itu, gejalanya pun mirip dengan banyak kondisi medis lainnya. Bahkan, banyak penderita ME/CFS yang tidak tampak seperti orang yang sakit.

Menurut sebuah ulasan ilmiah dalam jurnal Primary Care Companion to The Journal of Clinical Psychiatry tahun 2008, kelelahan bisa menjadi bagian dari gejala depresi, kecemasan, gangguan afektif musiman, dan beberapa kondisi lainnya. Fakta lapangan, ME/CFS sering dikira sebagai depresi.

Mengetahui riwayat lengkap pasien disertai pemeriksaan lewat kuesioner bisa sangat membantu dokter dalam membedakan ME/CFS dengan gangguan depresi mayor.

Dalam menentukan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh termasuk fisik, tes laboratorium, dan riwayat kesehatan pasien. Dokter juga akan memastikan bahwa pasien memiliki gejala dan faktor risiko ME/CFS. Selain itu, pasien akan ditanya mengenai durasi dan keparahan dari kelelahan yang dialami.

Beberapa penyakit yang punya gejala mirip ME/CFS antara lain:

Beberapa penyakit berikut memiliki gejala yang sama seperti sindrom kelelahan kronis.

  • Mononukleosis
  • Penyakit Lyme
  • Multiple sclerosis
  • Lupus
  • Hipotiroidisme (kekurangan hormon tiroid)
  • Fibromialgia
  • Gangguan depresi mayor
  • Obesitas
  • Gangguan tidur

Jika merasa lelah berkepanjangan, belum tentu kamu mengalami ME/CFS. Bisa saja merupakan gejala dari kondisi medis di atas. Maka dari itu, hindari diagnosis diri sendiri, periksakan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

6. Perawatan diberikan untuk meredakan gejala

Saat ini, belum ada metode pengobatan yang sepenuhnya efektif mengatasi ME/CFS. Namun, perawatan tetap dilakukan untuk meredakan gejala yang dialami.

Setiap pasien mungkin memiliki gejala yang berbeda-beda sehingga, sehingga penanganan tiap pasien pun tidak sama. Beberapa jenis perawatan yang bisa dilakukan di antaranya:

  • Obat-obatan: diberikan sesuai dengan kondisi pasien. Antidepresan diberikan untuk mengatasi depresi yang bisa menjadi pemicu ME/CFS dan membantu meningkatkan kualitas tidur. Selain itu, obat pereda nyeri, seperti ibuprofen atau aspirin, diresepkan untuk mengatasi nyeri sendi dan otot yang dirasakan penderita.
  • Psikoterapi: terapi perilaku kognitif (CBT) dapat membantu menenangkan pikiran dan mengatasi kecemasan, stres, atau depresi yang dapat muncul bersamaan dengan ME/CFS.
  • Perubahan gaya hidup: misalnya dengan mengurangi konsumsi kafein dan alkohol, berhenti merokok, tidur yang cukup, melakukan olahraga ringan sesuai rekomendasi dokter, menerapkan pola makan bergizi seimbang.

Perkembangan yang akan dirasakan dalam pengobatan tiap pasien bisa berbeda-beda pada tiap orang. Maka dari itu, penting bagi pasien untuk bekerja sama dengan dokter untuk membuat rencana perawatan sesuai kondisi dan kebutuhan.

Itulah hal-hal seputar sindrom kelelahan kronis. Terus-menerus merasa lelah memang tidak bisa dianggap sepele, apalagi jika muncul tanpa penyebab yang jelas. Segera periksakan ke dokter agar bisa diperiksa lebih lanjut dan segera mendapat penanganan yang tepat.

Dilansir oleh https://dealerpro.net/

Categories
Kesehatan

5 Manfaat Tertawa Untuk Kesehatan

5 Manfaat Tertawa Untuk Kesehatan

5 Manfaat Tertawa Untuk Kesehatan – Sering tertawa ketika mendengar celoteh yang lucu? Berbahagialah kamu yang masih bisa melakukannya. Pasalnya, selain benar-benar menghasilkan aura yang positif, tertawa juga mendatangkan beragam manfaat bagi kesehatan. Simak ulasan berikut seperti dilansir dari Medical Daily.

  1. Menurunkan tekanan darah
    Penelitian telah menemukan dampak positif pada aliran darah peserta setelah mereka menertawakan beberapa acara komedi. Dampak positif ini adalah meningkatkan pelebaran pembuluh darah yang akan menurunkan tekanan darah.”Tertawa memang bukan satu-satunya solusi untuk jantung yang sehat, tetapi tampaknya berkontribusi terhadap penurunan tekanan darah yang pada gilirannya memberi efek positif pada jantung,” ujar peneliti utama Jun Sugawara.
  1. Menghilangkan stres
    Tertawa juga meningkatkan respons tubuh dalam menurunkan tingkat stres kamu. Hasilnya, kamu akan merasakan perasaan lega karena hormon oksitosin diproduksi sebagai gantinya. Hal ini terungkap melalui sebuah penelitian di mana tertawa dikaitkan dengan berkurangnya tiga hormon stres yakni kortisol, epinefrin, dan dopac. Masing-masing dari hormon stres ini dilaporkan menurun sebanyak 39 persen, 70 persen, dan 38 persen.Meskipun ini adalah efek jangka pendek, ada kemungkinan tertawa bisa dijadikan sebagai terapi untuk memberi manfaat jangka panjang. Terapi tawa juga dilaporkan dapat menjadi alat manajemen stres, terutama bagi mereka yang menderita kecemasan dan depresi.
  1. Meningkatkan imunitas
    Lee Berk dari Loma Linda University, California, mengatakan kepada TIME bagaimana tertawa juga dikaitkan dengan penurunan tingkat peradangan dan peningkatkan aktivitas sel kekebalan tubuh. Sel-sel ini berperan membantu sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit.”Efek ini juga terjadi ketika kamu istirahat cukup, makan dengan benar, dan berolahraga. Itu sebabnya tertawa juga bisa dikategorikan sebagai gaya hidup sehat tradisional,” ujar Berk.
  1. Menghilangkan rasa sakit
    Dalam serangkaian percobaan, responden dilaporkan mengalami penurunan rasa nyeri ketika tertawa bersama kelompoknya. “Ketika tawa muncul, ambang nyeri meningkat secara signifikan, sehingga responden cenderung melupakan rasa nyerinya,” ujar penelitian.Meskipun fenomena ini tidak dipahami dengan jelas, para peneliti percaya bahwa tertawa dapat melepaskan zat kimia otak atau endorfin dalam tubuh yang dapat meningkatkan kemampuan kita untuk menahan rasa sakit.
  1. Latihan fisik
    Jangan menganggap ini berarti tertawa dapat menggantikan aktivitas fisik atau membantu kamu menurunkan berat badan. Tetapi tertawa sekitar 10 hingga 15 menit terbukti dapat membakar hingga 40 kalori menurut penelitian Vanderbilt University Medical Center. Dalam beberapa kasus, gelak tawa yang intens juga dapat melatih beberapa bagian tubuh seperti diafragma, perut, dan bahkan otot-otot bahu kamu.

Mari Tertawa Sebelum Tertawa Itu Dilarang 🙂

Dilansir oleh http://lavainbalaclava.com.au/